Dosen UM Bima Hadirkan MORIJAWA, Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Bahan Lokal
Pendidikan / PenelitianDosen Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima) mengembangkan MORIJAWA, inovasi pangan fungsional berbasis kelor (Moringa oleifera), jagung, dan sarang burung walet.
Upaya meningkatkan status gizi balita dan ibu hamil terus dilakukan melalui pengembangan inovasi pangan berbasis bahan lokal. Salah satunya diwujudkan oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima) melalui penelitian berjudul “Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis MORIJAWA (Moringa oleifera, Jagung, Walet) untuk Peningkatan Status Gizi Balita dan Ibu Hamil.”
Penelitian ini dikembangkan oleh tim yang terdiri atas Hairunnisah, M.Gz. dan Juraidin, S.T., M.P.H. dan Dr. M. Noris, S.Pd., M.Pd Penelitian tersebut diusulkan pada tahun 2025 dan dilaksanakan selama satu tahun pada 2026 melalui skema Riset Dasar, ruang lingkup Penelitian Dosen Pemula, serta bidang fokus pangan.
MORIJAWA merupakan inovasi pangan fungsional yang memadukan daun kelor (Moringa oleifera), jagung, dan sarang burung walet. Dalam tahap pengembangannya, ketiga bahan tersebut diformulasikan menjadi produk berupa cookies MORIJAWA yang praktis, mudah dikonsumsi, dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan tambahan bagi balita dan ibu hamil.
Daun kelor dipilih karena memiliki potensi kandungan protein, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif. Jagung berperan sebagai sumber energi dan karbohidrat, sedangkan sarang burung walet memiliki potensi kandungan protein dan asam amino. Kombinasi bahan tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk pangan yang bernilai gizi serta dapat diterima oleh masyarakat.
Sebagai bagian dari proses penelitian, tim pengembang juga melakukan diskusi bersama pihak Dinas Kesehatan dan tenaga kesehatan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperoleh masukan mengenai kebutuhan gizi kelompok sasaran, pengembangan formulasi produk, penerimaan masyarakat, serta peluang pemanfaatan MORIJAWA sebagai pangan fungsional bagi balita dan ibu hamil.
Diskusi dengan pemangku kepentingan bidang kesehatan menjadi tahapan penting agar produk yang dikembangkan tidak hanya memiliki nilai inovasi, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masukan dari tenaga kesehatan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan produk serta pelaksanaan pengujian pada tahapan berikutnya.
Penelitian ini mengangkat tema Teknologi Ketahanan dan Kemandirian Pangan, dengan topik pengembangan produk pangan fungsional. Pelaksanaan penelitian mencakup formulasi produk, pengujian kandungan zat gizi, pengujian keamanan pangan, serta evaluasi tingkat penerimaan produk oleh konsumen.
Pengembangan cookies MORIJAWA juga menjadi bagian dari upaya pemanfaatan sumber daya pangan lokal secara berkelanjutan. Selain berpotensi memberikan manfaat dalam bidang kesehatan dan gizi, inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal serta mendukung ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat.
Melalui penelitian ini, tim dosen UM Bima menargetkan tersusunnya formula pangan fungsional yang aman, bergizi, praktis, dan berpotensi digunakan sebagai alternatif makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil. Hasil penelitian tersebut juga diharapkan menjadi dasar untuk pengembangan produk pada tahap selanjutnya, termasuk standardisasi, penyempurnaan kemasan, produksi dalam skala yang lebih luas, serta penerapan di tengah masyarakat.
Inovasi MORIJAWA menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan instansi kesehatan dapat menghasilkan solusi berbasis potensi lokal untuk mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Foto 1: Tim pengembang MORIJAWA melakukan diskusi bersama pihak Dinas Kesehatan dan tenaga kesehatan wilayah NTB, terkait pengembangan serta potensi pemanfaatan produk bagi balita dan ibu hamil.